Disabilitas bukanlah hambatan untuk meraih mimipi. Ayom Pandu Pratiwi mahasiswa psikologi angkatan 2013 telah membuktikannya. Gadis yang saat ini duduk di semester 8 ini telah banyak melewati masa-masa sulit selama menempuh pendidikan, 9 tahun di SD dan SMP mendapatkan bullying tidak menjadikannya lemah, lantas berputus asa, bahkan berhenti sekolah. Ayom menceritakan dalam hidupnya bahwa sukses terbesar adalah bebas dari bullying yang dulu biasa ia terima dari teman-temannya karena disabilitas yang disandangnya.

Meskipun menyandang disabilitas pada kedua kakinya, Ayom bahkan tidak pernah mengeluh apabila harus naik-turun hingga lantai 4 untuk kuliah, dia menuturkan bahwa dirinya tidak pernah merasakan kesulitan karena fasilitas yang serba terbatas. Sebelum ada sekolah inklusipun ayom sejak awal menempuh pendidikan selalu di sekolah biasa dan di perlakukan layaknya anak normal oleh kedua orangtuanya. Hal ini yang dirasa membuat dirinya mampu survive dan bertahan mandiri meskipun tanpa bantuan orang lain.

Dukungan sosial yang dierima dari keluarga juga membuat dirinya sangat terbuka dengan keluarga, sepulang sekolah hingga kuliah Ayom selalu menceritakan aktivitasnya kepada ayah, ibu atau kakaknya. Saat ini gadis kelahiran Yogyakarta ini sedang menyelesaikan skripsinya dengan topik penelitian Tunadaksa, skripsi ini Ayom tulis karena keprihatinan terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Meskipun menyandang disabilitas bukan berarti menghambat Ayom untuk berprestasi, dengan hobinya bernyanyi Ayom tergabung dalam tim paduan suara tingkat universitas bahkan dirinya bersama teman0temanya pernah mendapatkan Medali Perunggu pada lomba paduan suara tingkat nasional di Semarang.

“Prestasi ini semakin membuktikan bahwa siapapun bisa berprestasi tidak peduli bagaimanapun keadaanya, selama kita memiliki niat dan usaha untuk meraihnya. Kalau kamu mau ya udah lakukan jangan nyerah.” Tutur Ayom

Dari Ayom kita mampu belajar, segala keterbatasan apapun sebenarnya bukanlah penghalang utama ketika kita memiliki mimpi. Bahkan disabilitas bukanlah benteng besar yang tidak bisa diruntuhkan. Terlalu fokus dengan keterbatasan hanya membuat ruang gerak kita semakin terbatas. Mengapa tidak mencoba menekuni hobi yang menjadi kelebihan kita? Mungkin dari hobi yang justru mampu mengantarkan kita mendapatkan pencapaian luar biasa.