Fear of Missing Out (FOMO) di Era Media Sosial
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Melalui ponsel di tangan, seseorang dapat melihat berbagai aktivitas orang lain: liburan yang menyenangkan, pencapaian karier, gaya hidup yang terlihat sempurna, hingga momen kebahagiaan bersama keluarga atau teman. Namun di balik kemudahan ini, muncul sebuah fenomena psikologis yang semakin banyak dialami masyarakat, yaitu Fear of Missing Out atau yang sering disebut FOMO.
FOMO adalah perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman orang lain. Seseorang merasa bahwa orang lain sedang menjalani kehidupan yang lebih menarik, lebih sukses, atau lebih bahagia dibandingkan dirinya. Akibatnya, ia merasa khawatir bahwa dirinya sedang melewatkan sesuatu yang penting dalam hidup.
Media sosial memiliki peran besar dalam memicu munculnya FOMO. Platform seperti Instagram, TikTok, atau Facebook sering kali menampilkan potongan-potongan kehidupan yang tampak ideal. Orang cenderung membagikan momen terbaik dalam hidupnya, seperti perjalanan liburan, pencapaian karier, atau kebersamaan dengan orang-orang terdekat. Jarang sekali seseorang membagikan kesulitan, kegagalan, atau perjuangan yang sebenarnya juga merupakan bagian dari kehidupan.
Ketika seseorang terus-menerus melihat kehidupan orang lain yang tampak “sempurna”, ia bisa mulai membandingkan dirinya dengan standar yang tidak realistis. Tanpa disadari, pikiran mulai bertanya: mengapa hidup orang lain terlihat lebih menyenangkan? Mengapa saya tidak mengalami hal yang sama? Perbandingan semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Dampak FOMO terhadap kesehatan mental tidak bisa dianggap sepele. Perasaan tertinggal dari orang lain dapat memicu kecemasan, rasa rendah diri, bahkan kelelahan emosional. Seseorang mungkin merasa harus selalu mengikuti tren, menghadiri berbagai kegiatan, atau terus aktif di media sosial agar tidak merasa tertinggal. Pada akhirnya, kehidupan menjadi dipenuhi tekanan yang sebenarnya tidak perlu.
Untuk mengurangi FOMO, langkah pertama yang penting adalah menyadari bahwa media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kenyataan. Apa yang terlihat di layar sering kali hanyalah momen yang dipilih secara khusus untuk dibagikan, bukan gambaran lengkap dari kehidupan seseorang.
Selain itu, penting juga untuk membatasi penggunaan media sosial. Memberi jarak dari arus informasi yang terus-menerus dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang. Mengalihkan perhatian pada aktivitas yang nyata—seperti berinteraksi dengan keluarga, melakukan hobi, atau mengembangkan diri—dapat membantu seseorang kembali fokus pada kehidupannya sendiri.
Dalam perspektif Islam, perasaan tidak puas terhadap kehidupan orang lain sebenarnya telah diingatkan sejak lama. Al-Qur’an mengajarkan agar manusia tidak terus-menerus membandingkan dirinya dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Allah berfirman:
“Dan janganlah engkau iri hati terhadap apa yang telah Kami berikan kepada sebagian mereka lebih banyak daripada sebagian yang lain…”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan menimbulkan kegelisahan yang tidak perlu.
Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya rasa syukur. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu…”
(QS. Ibrahim: 7)
Rasa syukur membantu seseorang melihat kembali berbagai hal baik yang sudah dimilikinya. Ketika seseorang lebih fokus pada apa yang dimiliki daripada apa yang tidak dimiliki, perasaan cemas akibat FOMO akan berkurang.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah perlombaan untuk mengikuti semua hal yang dilakukan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Dengan membatasi perbandingan sosial, menjaga kesehatan mental, serta menumbuhkan rasa syukur, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan bermakna di tengah derasnya arus media sosial.
-Dimas Yanuar Langgeng-

