Psychology For Better Community
  • TENTANG KAMI
    • Visi Misi
    • Pimpinan Fakultas
    • Sejarah
    • Sarana dan Prasarana
    • Struktur Organisasi
    • Dosen Psikologi
    • Staf Kependidikan
    • Akreditasi
    • Alumni
  • AKADEMIK
    • Sarjana Psikologi
    • Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Magister Psikologi Profesi
  • KERJASAMA
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
    • Mitra
  • LAYANAN ONLINE
    • Layanan Dosen
    • Layanan Mahasiswa dan Alumni
    • Dokumen Akademik
  • LAYANAN PSIKOLOGI
    • Laboratorium Psikodiagnostika
    • Center for Community Empowerment (CCE)
    • Laboratorium Psikologi Terapan (LPT)
  • Menu Menu

Silent Treatment dalam Hubungan: Tanda Konflik yang Tidak Sehat

July 12, 2025/in Berita/by Wildan

Dalam sebuah hubungan, konflik adalah hal yang wajar terjadi. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kekecewaan seringkali menjadi bagian dari dinamika hubungan antara pasangan, teman, maupun anggota keluarga. Namun cara seseorang merespons konflik sangat menentukan kualitas hubungan tersebut. Salah satu bentuk respons yang cukup sering terjadi adalah silent treatment.

Silent treatment adalah perilaku ketika seseorang memilih diam, mengabaikan, atau menolak berkomunikasi dengan orang lain sebagai bentuk ekspresi kemarahan atau kekecewaan. Orang yang melakukan silent treatment biasanya tidak menjelaskan apa yang dirasakannya, tetapi menunjukkan sikap menjauh, tidak merespons pesan, atau bersikap dingin.

Pada awalnya, sebagian orang mungkin menganggap diam sebagai cara untuk menenangkan diri. Memang dalam beberapa situasi, mengambil waktu sejenak untuk menenangkan emosi adalah hal yang sehat. Namun silent treatment berbeda dengan mengambil jeda yang sehat. Silent treatment seringkali dilakukan untuk menghukum atau membuat orang lain merasa bersalah.

Secara psikologis, silent treatment termasuk dalam bentuk komunikasi pasif-agresif. Orang yang melakukannya tidak mengungkapkan perasaan secara langsung, tetapi mengekspresikan kemarahan melalui sikap diam dan pengabaian. Bagi pihak yang menerima silent treatment, kondisi ini dapat menimbulkan perasaan bingung, cemas, bahkan merasa ditolak.

Tidak jarang seseorang yang menerima silent treatment terus-menerus mencoba menebak kesalahan yang telah ia lakukan. Ia mungkin merasa harus meminta maaf berkali-kali tanpa benar-benar memahami masalah yang terjadi. Jika pola ini berlangsung lama, hubungan dapat menjadi tidak sehat karena komunikasi tidak berjalan secara terbuka.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang menggunakan silent treatment. Salah satunya adalah kesulitan dalam mengungkapkan emosi. Sebagian orang tidak terbiasa membicarakan perasaan marah atau kecewa secara langsung. Akibatnya, mereka memilih diam sebagai bentuk perlindungan diri.

Selain itu, silent treatment juga bisa muncul dari pola komunikasi yang dipelajari sejak kecil. Jika seseorang tumbuh di lingkungan keluarga yang menghindari konflik atau tidak terbiasa membicarakan masalah secara terbuka, ia mungkin membawa pola tersebut ke dalam hubungan saat dewasa.

Dalam ajaran Islam, hubungan antar manusia dianjurkan untuk dijaga dengan komunikasi yang baik dan sikap saling menghormati. Allah SWT berfirman:

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini mengingatkan bahwa dalam berinteraksi dengan orang lain, termasuk pasangan atau keluarga, kita dianjurkan untuk bersikap baik dan memperlakukan mereka dengan cara yang pantas.

Menghadapi silent treatment membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang bijak. Jika Anda berada di posisi sebagai penerima silent treatment, cobalah mengajak berbicara dengan cara yang tenang dan tidak menyudutkan. Berikan ruang bagi pasangan atau orang tersebut untuk menyampaikan perasaannya.

Sementara itu, bagi seseorang yang menyadari dirinya sering menggunakan silent treatment, penting untuk belajar mengungkapkan emosi secara lebih sehat. Mengatakan “Saya merasa kecewa ketika…” atau “Saya butuh waktu untuk menenangkan diri” dapat menjadi cara yang lebih konstruktif dibandingkan hanya diam dan menjauh.

Hubungan yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa jarang konflik terjadi, tetapi oleh bagaimana konflik tersebut diselesaikan. Komunikasi yang terbuka, empati, dan kemauan untuk saling memahami menjadi kunci utama dalam menjaga hubungan yang harmonis.

 

 

-Dimas Yanuar Langgeng-

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png 0 0 Wildan https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png Wildan2025-07-12 12:14:042026-03-11 12:15:02Silent Treatment dalam Hubungan: Tanda Konflik yang Tidak Sehat

Post Terbaru

  • GRAND FINAL DUTA PSIKOLOGI UAD 2025: AJANG APRESIASI INTELEKTUALITAS dan KARAKTER MAHASISWA PSIKOLOGIJanuary 5, 2026 - 2:58 pm
  • Media Sosial dan Psikologi Kita: Antara Perbandingan Sosial dan Nilai-Nilai IslamDecember 20, 2025 - 2:31 pm
  • MAHASISWA PSIKOLOGI UAD RAIH EMAS di NATIONAL WRITING COMPETITION 2025December 4, 2025 - 10:29 am

Instagram

Ikuti Kami!

Kampus 1

Universitas Ahmad Dahlan
Jl.Kapas 9, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Layanan Akademik : WA (0882-3346-3544)
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]psy.uad.ac.id

Informasi Tentang

Universitas Ahmad dahlan

Portal Akademik

Calon Mahasiswa

Jadwal Kuliah

Kuliah Online

Journal @UAD

Digital Library

Repository

Conference @UAD

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960

Psychology Career Planning 2025 Hadirkan Wawasan Karier di Luar Kelas, Buka...DYAH FARDISA BAGIKAN STRATEGI MEMBANGUN BRAND BOLO SEGO DARI KRISIS PANDEMI
Scroll to top