Dosen Fakultas Psikologi Lakukan Riset di Afrika Selatan

Sesuai dengan visi dan misi Fakultas Psikologi untuk mengembangkan psikologi yang berbasis pada komunitas dan diakui secara internasional, maka dilakukanlah riset kolaborasi dengan University of South Africa (UNISA). A.M Diponegoro, Elli Nur Hayati, Dessy Pranungsari melakukan riset bersama Prof Mohammed Seedat dan Prof Shahnaz Suffla dari University of South Africa. Pada bulan April riset tahap awal telah dilakukan di Indonesia, dan pada 9-18 Agustus 2018 tim peneliti melakukan analisis data penelitian di Afrika Selatan. Penelitian yang dilakukan merupakah penelitian skim kerjasama luar negri yang didanai oleh LPPM UAD.

Penelitian yang berjudul ”Voicing and Empowering the Vulnerable Group Through Indegenous Community Psychology” meneliti anak jalana perempuan di Yogyakarta menggunakan metode Photovoice. Penelitian ini merupakan penelitian yang melibatkan partisipan sebagai bagian dari peneliti yang berada di komunitas (Community Based Participatory Research). Metode Photovoice sendiri merupakan bagian dari metode penelitian Kualitatif dimana partisipan diajak untuk bersuara melalui foto.

Selain melakukan analisis data, Tim peneliti juga berkesempatan mengunjungi komunitas dampingan riset yang berada di wilayah Johannesburg dan Cape Town. Disini peneliti melihat langsung kerja tim riset yang berupaya memberdayakan komunitas melalui program-program pemberdayaan. Mahasiswa Ph.D diterjunkan untuk melakukan internship dan melakukan riset di komunitas, bersamaan dengan disiplin ilmu yang lain.

UNISA merupakan universitas dengan kampus utama di Pretoria, namun kerja-kerja komunitas dilakukan di Johannesburg dan Cape Town sehingga kampus didirikan di kedua provinsi tersebut.  Psikologi komunitas yang dikembangkan di UNISA hampir mirip dengan problem di Indonesia. Indonesia dan Afrika merupakan negara koloni Belanda dengan berbagai keragaman ras dan agama. Meskipun tidak bisa disamakan karena latar belakang budaya yang berbeda, penelitian kerjasama luar negri ini mampu membuka wawasan peneliti, seperti yang diungkap Dessy salah satu anggota penalitian.

“Banyak hal yang dipelajari selama di Afrika Selatan, kami diajak untuk terjun ke komunitas sebagai akademisi. Saya tersentujh ketika salah satu warga komunitas menyampaikan kegembiraannya saat bisa bertemu dengan professor (akademisi) yang pintar namun  mau merengkuh mereka. Ini adalah tugas besar kita semua, untuk bisa diterima di komunitas dan membawa perubahan yang lebih baik melalui riset”