Internalisasi Nilai Kemuhammadiyahan: Membentuk Self-Efficacy pada Generasi Z
Generasi Z (Gen Z) sering kali dijuluki sebagai yang kreatif sekaligus rentan secara mental pada era ini, era terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran secara fundamental karena keberadaan berbagai teknologi digital. Tantangan berupa arus informasi yang masif, kompetisi global, hingga fenomena social comparison menuntut mereka memiliki keyakinan diri yang kokoh. Dalam psikologi, keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas atau menghadapi tantangan disebut sebagai Self-Efficacy.
Bagi kader muda Muhammadiyah, self-efficacy bukan sekadar rasa percaya diri yang kosong, melainkan sebuah manifestasi iman yang berakar pada nilai-nilai Kemuhammadiyahan dan prinsip Islam Berkemajuan.
Muhammadiyah dan Akar Keyakinan Diri
Internalisasi nilai Kemuhammadiyahan dimulai dari pemahaman tauhid yang murni. Tauhid dalam Muhammadiyah bukan hanya konsep teologis, tetapi juga sebagai pembebas manusia dari rasa takut terhadap sesama manusia. Ketika anak muda Gen Z memahami bahwa otoritas tertinggi hanya milik Allah, ia akan memiliki Efikasi Diri yang tinggi karena merasa didukung oleh kekuatan yang Maha Besar.
Nilai Tajdid (Pembaruan) yang menjadi identitas Muhammadiyah mengajarkan Gen Z untuk tidak kaku dan selalu mencari solusi kreatif. Semangat ini sejalan dengan elemen pembentuk self-efficacy menurut Albert Bandura, yaitu mastery experience (pengalaman keberhasilan). Gen Z dapat belajar menyelesaikan masalah dengan mengikuti Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) atau organisasi otonom. Hal tersebut akan memupuk keyakinan kompetensi yang ada di dalam diri mereka.
Teologi Al-Ma’un sebagai Bahan Bakar Mental
Salah satu pilar utama Kemuhammadiyahan adalah Teologi Al-Ma’un. Ajaran KH Ahmad Dahlan ini menekankan bahwa kesalehan ritual harus berdampak pada aksi sosial. Bagi Gen Z, nilai ini berfungsi sebagai Vicarious Experience (belajar dari model orang lain).
Melihat bagaimana Muhammadiyah mengelola ribuan sekolah, rumah sakit, dan lembaga filantropi memberikan pesan psikologis yang kuat: “Jika organisasi ini bisa memberikan dampak besar bagi bangsa, maka saya sebagai bagian darinya juga mampu melakukan hal serupa.” Perasaan menjadi bagian dari gerakan yang besar dan bermanfaat ini memberikan dorongan mental bahwa mereka memiliki peran penting dalam peradaban.
Menghadapi Tantangan Zaman dengan Karakter Berkemajuan
Gen Z sering menghadapi masalah quarter-life crisis atau keraguan akan masa depan. Di sinilah nilai Islam Berkemajuan berperan sebagai penyeimbang psikologis. Islam Berkemajuan menuntut untuk visioner dan tidak mudah menyerah.
Dalam perspektif psikologi, internalisasi nilai ini membantu Gen Z dalam:
- Regulasi Emosi: Nilai – nilai sabar dan bersyukur dalam Islam menjadi mekanisme koping yang sehat saat menghadapi kegagalan.
- Growth Mindset: Semangat ijtihad (berpikir keras/inovasi) dalam Muhammadiyah mendorong Gen Z untuk melihat hambatan sebagai peluang belajar, bukan sebagai tembok penghalang.
- Dukungan Sosial: Berada dalam ekosistem Muhammadiyah memberikan dukungan sosial (social persuasion) yang positif melalui mentor dan sesama kader, yang merupakan salah satu sumber penguatan self-efficacy.
Kesimpulan
Internalisasi nilai Kemuhammadiyahan bukan sekadar menghafal ideologi, melainkan proses psikologis untuk membentuk pribadi yang tangguh. Dengan memadukan tauhid yang murni, semangat tajdid, dan etos sosial Al-Ma’un, Gen Z tidak hanya akan menjadi generasi yang mahir teknologi, tetapi juga individu yang memiliki self-efficacy tinggi—yakin bahwa dengan izin Allah, mereka mampu membawa perubahan nyata bagi umat dan bangsa.
-Farah Fabiola-


