Psychology For Better Community
  • TENTANG KAMI
    • Visi Misi
    • Pimpinan Fakultas
    • Sejarah
    • Sarana dan Prasarana
    • Struktur Organisasi
    • Dosen Psikologi
    • Staf Kependidikan
    • Akreditasi
    • Alumni
  • AKADEMIK
    • Sarjana Psikologi
    • Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Magister Psikologi Profesi
  • KERJASAMA
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
    • Mitra
  • LAYANAN ONLINE
    • Layanan Dosen
    • Layanan Mahasiswa dan Alumni
    • Dokumen Akademik
  • LAYANAN PSIKOLOGI
    • Laboratorium Psikodiagnostika
    • Center for Community Empowerment (CCE)
    • Laboratorium Psikologi Terapan (LPT)
  • Menu Menu

Ketika Cinta Membuat Seseorang Kehilangan Diri: Belajar Mandiri dalam Hubungan

March 23, 2024/in Berita/by Wildan

Dalam sebuah hubungan, rasa saling membutuhkan adalah hal yang wajar. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sepenuhnya sendiri. Kehadiran pasangan sering kali menjadi sumber dukungan, tempat berbagi cerita, dan ruang untuk saling menguatkan. Namun, masalah mulai muncul ketika rasa membutuhkan berubah menjadi ketergantungan yang berlebihan.

Dalam beberapa kasus, ketergantungan emosional yang kuat sering ditemukan dalam hubungan yang tidak sehat. Seseorang merasa tidak mampu menjalani hidup tanpa pasangannya. Ia menggantungkan kebahagiaan, rasa aman, bahkan harga dirinya kepada orang tersebut. Akibatnya, meskipun diperlakukan dengan tidak baik—diabaikan, direndahkan, atau disakiti—ia tetap bertahan karena merasa tidak sanggup melepaskan hubungan itu.

Fenomena seperti ini sering kali terjadi karena berbagai faktor psikologis. Rasa takut ditinggalkan, rendahnya kepercayaan diri, atau pengalaman masa lalu dapat membuat seseorang merasa bahwa pasangan adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam kondisi seperti ini, seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk melihat hubungan secara objektif. Ia lebih memilih bertahan dalam luka daripada menghadapi kemungkinan kehilangan.

Dari sudut pandang psikologi, hubungan yang sehat seharusnya dibangun oleh dua individu yang sama-sama memiliki kemandirian emosional. Artinya, masing-masing tetap memiliki identitas, harga diri, dan kemampuan untuk mengelola hidupnya sendiri. Hubungan yang baik bukanlah hubungan yang membuat seseorang kehilangan dirinya, tetapi hubungan yang membantu kedua pihak berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.

Islam juga memberikan pandangan yang jelas mengenai keseimbangan dalam hubungan. Dalam Islam, hubungan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam pernikahan, didasarkan pada prinsip saling menenangkan dan saling melindungi. Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa hubungan yang baik seharusnya menghadirkan ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat. Jika sebuah hubungan justru dipenuhi dengan rasa takut, luka, atau penghinaan yang terus-menerus, maka hubungan tersebut telah menjauh dari tujuan yang diajarkan dalam Islam.

Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa manusia seharusnya tidak menggantungkan seluruh hidupnya kepada sesama manusia. Ketergantungan utama seorang hamba seharusnya hanya kepada Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)

Ayat ini mengingatkan bahwa sandaran utama dalam hidup bukanlah manusia, melainkan Allah. Ketika seseorang menempatkan kebahagiaan dan harga dirinya sepenuhnya pada orang lain, ia berisiko kehilangan keseimbangan dalam hidupnya.

Pada akhirnya, mencintai pasangan bukan berarti mengorbankan martabat diri. Islam mengajarkan hubungan yang dilandasi dengan penghormatan, kebaikan, dan tanggung jawab. Setiap individu tetap memiliki nilai dan kehormatan yang harus dijaga.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang membuat seseorang merasa dihargai, aman, dan berkembang. Ketika cinta dibangun di atas penghargaan diri dan keimanan kepada Allah, hubungan tersebut tidak akan menjadi tempat ketergantungan yang menyakitkan, tetapi justru menjadi ruang untuk saling menguatkan dalam menjalani kehidupan.

 

-Dimas Yanuar Langgeng-

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png 0 0 Wildan https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png Wildan2024-03-23 10:37:532026-03-11 10:39:37Ketika Cinta Membuat Seseorang Kehilangan Diri: Belajar Mandiri dalam Hubungan

Post Terbaru

  • GRAND FINAL DUTA PSIKOLOGI UAD 2025: AJANG APRESIASI INTELEKTUALITAS dan KARAKTER MAHASISWA PSIKOLOGIJanuary 5, 2026 - 2:58 pm
  • Media Sosial dan Psikologi Kita: Antara Perbandingan Sosial dan Nilai-Nilai IslamDecember 20, 2025 - 2:31 pm
  • MAHASISWA PSIKOLOGI UAD RAIH EMAS di NATIONAL WRITING COMPETITION 2025December 4, 2025 - 10:29 am

Instagram

Ikuti Kami!

Kampus 1

Universitas Ahmad Dahlan
Jl.Kapas 9, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Layanan Akademik : WA (0882-3346-3544)
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]psy.uad.ac.id

Informasi Tentang

Universitas Ahmad dahlan

Portal Akademik

Calon Mahasiswa

Jadwal Kuliah

Kuliah Online

Journal @UAD

Digital Library

Repository

Conference @UAD

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960

Rekomendasi Dosen Pembimbing SkripsiMenjaga Keseimbangan Hidup: Antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi
Scroll to top