Psychology For Better Community
  • TENTANG KAMI
    • Visi Misi
    • Pimpinan Fakultas
    • Sejarah
    • Sarana dan Prasarana
    • Struktur Organisasi
    • Dosen Psikologi
    • Staf Kependidikan
    • Akreditasi
    • Alumni
  • AKADEMIK
    • Sarjana Psikologi
    • Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Magister Psikologi Profesi
  • KERJASAMA
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
    • Mitra
  • LAYANAN ONLINE
    • Layanan Dosen
    • Layanan Mahasiswa dan Alumni
    • Dokumen Akademik
  • LAYANAN PSIKOLOGI
    • Laboratorium Psikodiagnostika
    • Center for Community Empowerment (CCE)
    • Laboratorium Psikologi Terapan (LPT)
  • Menu Menu

Ketika Pekerjaan Menguasai Hidup: Memahami Work-Life Imbalance dalam Perspektif Islam

September 28, 2024/in Berita/by Wildan

Di era modern saat ini, pekerjaan sering kali menjadi pusat kehidupan banyak orang. Tuntutan untuk selalu produktif, mengejar target, dan mencapai kesuksesan membuat banyak individu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Kondisi ini sering menimbulkan fenomena yang dikenal sebagai work-life imbalance, yaitu keadaan ketika kehidupan pekerjaan mengambil porsi yang jauh lebih besar dibandingkan aspek kehidupan lainnya, seperti keluarga, kesehatan, dan waktu pribadi.

Work-life imbalance bukanlah hal yang jarang terjadi. Banyak pekerja yang merasa harus selalu tersedia, bahkan di luar jam kerja. Pesan pekerjaan yang masuk di malam hari, pekerjaan yang terbawa hingga akhir pekan, hingga tuntutan untuk selalu cepat merespons menjadi hal yang dianggap biasa. Lambat laun, batas antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi menjadi semakin kabur.

Kondisi ini tentu dapat berdampak pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Ketika seseorang terlalu fokus pada pekerjaan, mereka berisiko mengalami kelelahan yang berkepanjangan atau burnout. Gejala seperti stres, sulit tidur, kelelahan emosional, dan menurunnya motivasi sering muncul akibat tekanan kerja yang terus-menerus. Selain itu, hubungan dengan keluarga dan orang terdekat juga bisa terganggu karena kurangnya waktu untuk berinteraksi secara berkualitas.

Ironisnya, banyak orang merasa bahwa bekerja tanpa henti adalah tanda kesuksesan atau dedikasi tinggi. Padahal, kehidupan manusia tidak hanya terdiri dari pekerjaan. Setiap individu juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, membangun hubungan sosial, serta menjaga kesehatan fisik dan mentalnya. Tanpa keseimbangan tersebut, produktivitas yang diharapkan justru dapat menurun dalam jangka panjang.

Dalam perspektif Islam, keseimbangan hidup merupakan prinsip yang sangat ditekankan. Islam tidak melarang umatnya untuk bekerja keras dan mencari rezeki. Bahkan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dianggap sebagai bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik. Namun, Islam juga mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh hanya berfokus pada satu aspek saja.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia dianjurkan untuk menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat. Pekerjaan sebagai bagian dari kehidupan dunia memang penting, tetapi tidak boleh membuat seseorang melupakan kewajiban lainnya, seperti beribadah, menjaga hubungan dengan keluarga, dan merawat diri sendiri.

Selain itu, Islam juga mengajarkan pentingnya waktu untuk beristirahat. Bahkan dalam praktik ibadah sehari-hari, terdapat keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Hal ini menunjukkan bahwa manusia tidak diciptakan untuk bekerja tanpa henti, melainkan untuk menjalani kehidupan yang seimbang.

Work-life balance dalam konteks Islam dapat diwujudkan dengan mengatur prioritas hidup secara bijak. Seseorang dapat bekerja dengan penuh tanggung jawab, namun tetap menyediakan waktu untuk keluarga, ibadah, serta menjaga kesehatan diri. Dengan cara ini, pekerjaan tidak menjadi beban yang menguras energi, tetapi justru menjadi sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari pencapaian karier atau materi yang dimiliki. Kehidupan yang seimbang, hati yang tenang, serta hubungan yang baik dengan Tuhan dan sesama manusia juga merupakan bagian penting dari kebahagiaan. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menyadari bahwa bekerja keras memang baik, tetapi menjaga keseimbangan hidup adalah hal yang jauh lebih bijaksana.

-Dimas Yanuar Langgeng-

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png 0 0 Wildan https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png Wildan2024-09-28 11:46:322026-03-11 11:48:02Ketika Pekerjaan Menguasai Hidup: Memahami Work-Life Imbalance dalam Perspektif Islam

Post Terbaru

  • GRAND FINAL DUTA PSIKOLOGI UAD 2025: AJANG APRESIASI INTELEKTUALITAS dan KARAKTER MAHASISWA PSIKOLOGIJanuary 5, 2026 - 2:58 pm
  • Media Sosial dan Psikologi Kita: Antara Perbandingan Sosial dan Nilai-Nilai IslamDecember 20, 2025 - 2:31 pm
  • MAHASISWA PSIKOLOGI UAD RAIH EMAS di NATIONAL WRITING COMPETITION 2025December 4, 2025 - 10:29 am

Instagram

Ikuti Kami!

Kampus 1

Universitas Ahmad Dahlan
Jl.Kapas 9, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Layanan Akademik : WA (0882-3346-3544)
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]psy.uad.ac.id

Informasi Tentang

Universitas Ahmad dahlan

Portal Akademik

Calon Mahasiswa

Jadwal Kuliah

Kuliah Online

Journal @UAD

Digital Library

Repository

Conference @UAD

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960

Academic Burnout pada Mahasiswa: Ketika Semangat Belajar Berubah Menjadi Kelelahan...Media Sosial dan Kesehatan Mental: Ketika Cyberbullying Menggerus Empati
Scroll to top