Media Sosial dan Kesehatan Mental: Ketika Cyberbullying Menggerus Empati
Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Melalui berbagai platform, orang dapat berbagi informasi, mengekspresikan diri, hingga membangun relasi dengan orang lain tanpa batas ruang dan waktu. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga menghadirkan persoalan baru yang tidak bisa diabaikan, salah satunya adalah maraknya cyberbullying.
Cyberbullying atau perundungan di dunia maya kini semakin sering terjadi. Bentuknya beragam, mulai dari komentar menghina, penyebaran rumor, body shaming, hingga serangan verbal yang dilakukan secara terus-menerus di kolom komentar atau pesan pribadi. Berbeda dengan perundungan secara langsung, cyberbullying memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dan dampaknya bisa bertahan lebih lama karena jejak digital sulit dihapus.
Fenomena ini tentu berdampak besar terhadap kesehatan mental seseorang. Banyak korban cyberbullying mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, stres, bahkan depresi. Tidak sedikit pula yang merasa takut untuk mengekspresikan diri di ruang digital karena khawatir akan mendapatkan komentar negatif dari orang lain. Padahal, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk berbagi dan berinteraksi secara positif, bukan tempat untuk saling menjatuhkan.
Ironisnya, sebagian orang sering menganggap komentar kasar di media sosial sebagai hal yang biasa atau sekadar “candaan”. Padahal, bagi korban, kata-kata yang dianggap sepele tersebut bisa sangat melukai perasaan. Kalimat yang dituliskan di balik layar sering kali tidak mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Inilah yang menunjukkan bahwa literasi digital dan empati di ruang maya masih perlu terus ditingkatkan.
Dalam perspektif Islam, sikap merendahkan, menghina, atau mempermalukan orang lain jelas tidak dibenarkan. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dan perkataan, baik secara langsung maupun melalui tulisan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa menghina atau merendahkan orang lain merupakan perilaku yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim. Bahkan, orang yang dihina bisa jadi memiliki derajat yang lebih baik di sisi Allah. Prinsip ini seharusnya menjadi pedoman dalam berinteraksi, termasuk di dunia digital.
Selain itu, Islam juga mengajarkan untuk berkata baik atau memilih diam jika tidak mampu menyampaikan sesuatu yang bermanfaat. Sikap ini sangat relevan dengan kondisi media sosial saat ini, di mana setiap orang memiliki kebebasan untuk berkomentar. Kebebasan tersebut seharusnya diimbangi dengan tanggung jawab moral agar tidak menyakiti orang lain.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat. Dampaknya terhadap kesehatan mental sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan, inspirasi, dan dukungan bagi sesama. Sebaliknya, jika dipenuhi dengan ujaran kebencian dan perundungan, ruang digital justru akan menjadi tempat yang tidak sehat secara psikologis.
Oleh karena itu, penting bagi setiap pengguna media sosial untuk menumbuhkan empati dan kesadaran bahwa di balik setiap akun terdapat manusia yang memiliki perasaan. Mengingat kembali nilai-nilai moral dan ajaran agama dapat menjadi pengingat bahwa setiap kata yang kita tuliskan memiliki konsekuensi. Dengan demikian, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat, tidak hanya bagi kesehatan mental, tetapi juga bagi hubungan sosial di masyarakat.
-Dimas Yanuar Langgeng-


