Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Anxiety? Perspektif Psikologi dan Islam
Beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda. Salah satu masalah yang paling banyak muncul adalah anxiety atau kecemasan berlebihan. Generasi Z, yaitu mereka yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, sering disebut sebagai generasi yang paling terbuka membicarakan kesehatan mental, tetapi juga dianggap sebagai generasi yang paling rentan mengalami anxiety.
Anxiety sebenarnya merupakan respon alami tubuh ketika seseorang menghadapi tekanan atau situasi yang dianggap mengancam. Namun, ketika rasa cemas muncul terlalu sering, terlalu kuat, dan sulit dikendalikan, kondisi tersebut dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Banyak anak muda yang merasa khawatir berlebihan terhadap masa depan, pencapaian akademik, karier, hingga kehidupan sosial mereka.
Ada beberapa faktor yang membuat Gen Z lebih rentan mengalami anxiety. Salah satunya adalah tekanan dari media sosial. Di era digital, kehidupan orang lain terlihat begitu sempurna di layar ponsel. Banyak anak muda tanpa sadar membandingkan dirinya dengan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih mapan. Perbandingan sosial ini dapat memicu rasa tidak cukup baik, rendah diri, hingga kecemasan tentang masa depan.
Selain itu, tuntutan akademik dan ekspektasi dari lingkungan juga menjadi pemicu anxiety. Banyak anak muda merasa harus selalu berprestasi dan tidak boleh gagal. Ketika harapan tersebut terasa terlalu tinggi, mereka dapat mengalami tekanan mental yang berat. Tidak sedikit pula yang merasa takut mengecewakan orang tua atau lingkungan sekitarnya.
Di tengah kondisi tersebut, penting untuk memahami bahwa kecemasan adalah bagian dari pengalaman manusia. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, anxiety dapat berdampak pada kesehatan mental, seperti sulit tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Dalam perspektif Islam, perasaan cemas bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah, karena manusia memang memiliki keterbatasan dan kekhawatiran terhadap masa depan. Namun, Islam mengajarkan umatnya untuk tidak larut dalam kecemasan dan selalu mengingat bahwa segala sesuatu berada dalam kendali Allah SWT.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat tersebut memberikan pesan bahwa ketenangan hati dapat diperoleh melalui kedekatan dengan Allah. Ketika seseorang merasa cemas terhadap berbagai hal dalam hidupnya, mengingat dan berserah diri kepada Allah dapat menjadi sumber ketenangan batin.
Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar kemampuannya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 286 disebutkan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini dapat menjadi penguat bagi mereka yang merasa terbebani oleh berbagai tuntutan hidup. Apa pun ujian yang dihadapi, pada dasarnya masih berada dalam batas kemampuan manusia untuk menjalaninya.
Bagi Gen Z yang sering mengalami anxiety, penting untuk belajar mengelola kecemasan dengan cara yang sehat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengatur penggunaan media sosial, berbagi cerita dengan orang yang dipercaya, menjaga pola hidup sehat, serta memperkuat hubungan spiritual dengan Tuhan.
Pada akhirnya, kecemasan memang tidak selalu bisa dihindari. Namun, dengan pemahaman yang baik, dukungan sosial, serta pendekatan spiritual, anxiety dapat dikelola dengan lebih bijak. Gen Z tidak harus menjadi generasi yang terus hidup dalam kecemasan, tetapi dapat menjadi generasi yang lebih sadar akan kesehatan mental sekaligus memiliki ketenangan batin dalam menjalani kehidupan.
-Dimas Yanuar Langgeng-



