Pelatihan “AKU DAN TUBUHKU: Program Pengenalan Tubuh Dengan Prinsip Active Joyful Effective Learning”( AJEL)

Kasus kekerasan seksual yang terjadi pada anak di bawah umur saat ini sudah sangat memprihatinkan bahkan dapat dikatakan dalam kondisi kritis dan darurat, sehingga sangat meresahkan dan butuh penanganan khusus agar kondisi tersebut segera ditangani dan diantisipasi. Anak menjadi kelompok rentan terhadap pelecehan seksual karena anak diposisikan sebagai sosok yang lemah, polos, tidak berdaya dan belum faham mengenai tubuhnya. Hal inilah yang kemudian membuat anak anak cenderung menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Upaya pemberian wawasan kepada anak mengenai pentingnya menjaga diri dan tubuhnya, adalah salah satu tindakan pencegahan yang diharapkan efektif. Anak diajarkan untuk aktif, responsif dan berdaya terhadap dirinya dan tubuhnya sesuai dengan usia dan pemahaman anak. Pelatihan ini memberikan pemahaman mengenai diri dan tubuh anak, sehingga anak dapat memahami dirinya sendiri dan akan menumbuhkan kepedulian pada tubuhnya untuk mengantisipasi potensi tindak kekerasan dan pelecehan seksual.
Program PKM M ini adalah sinergi antara perguruan tinggi yaitu Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, Kemenristek Dikti, dan masyarakat sebagai penerima manfaat. Program ini juga sebagai jembatan membuka akses layanan psikologi yang mudah, murah dan menyenangkan. Pelaksanaan program ini, mendapat hibah pendanaan dari Kemenristekdikti untuk pelaksanaan program pada tahun anggaran 2019.
Didasarkan hal tersebut, maka tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-M) Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, melaksanakan program pelatihan dengan judul “AKU DAN TUBUHKU: Program Pengenalan Tubuh Dengan Prinsip Active Joyful Effective Learning”(Ajel). Program ini memberikan wawasan kepada anak untuk mengenali tubuhnya. Prinsip Active Joyful Effective Learning akan menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan sehingga diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif sesuai tujuan yang ingin diperoleh. Proses pembelajaran disesuaikan dengan perkembangan kognitif anak. Piaget, seorang ahli perkembangan anak mengatakan, anak pada usia 10 tahun keatas berada pada tahap Praoperasional. Anak pada tahap usia ini mampu melakukan penalaran logis, sejauh penalaran itu dapat diaplikasikan pada contoh-contoh yang spesifik atau konkret (Santrock, 2012). Didasarkan pada konsep Piaget, maka sasaran program ini didesain dan dilaksanakan untuk anak anak pada usia 10 – 11 tahun.
“AKU DAN TUBUHKU: Program Pengenalan Tubuh Dengan Prinsip Active Joyful Effective Learning (AJEL)” dilaksanakan di SD Model Sleman. Peserta adalah siswa kelas 4 (empat) dan terdiri dari tiga rombongan belajar. Peserta keseluruhan adalah 84 siswa, yang dibagi dua kelas, yaitu kelas anak laki – laki dan kelas anak perempuan. Program dilaksanakan selama empat kali pertemuan dengan materi yang menyenangkan. Konsep bermain sambil belajar dikemas dengan melibatkan siswa secara aktif, seperti bermain peran, bernyanyi, penggunaan alat peraga berupa manekin tubuh anak, video, dan bermain poster. Siswa juga diajak untuk melakukan kompetisi sederhana dengan mengumpulkan point reward yang dapat ditukarkan dengan hadiah yang menarik di akhir program. Antuasisme siswa dan siswi kelas 4 SD Model Sleman tampak nyata, mereka terlibat aktif mendengarkan, bertanya, dan mendiskusikan materi. Materi-materi yang disampaikan meliputi fungsi organ tubuh bagian luar, perbedaan organ tubuh bagian luar laki-laki dan perempuan, area tubuh yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh, pubertas, tipe-tipe sentuhan, dan cara melindungi diri dari pelecehan seksual.
Program ini memang memberikan kesempatan pada anak aktif terlibat, serta memberi kebebasan kepada anak untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan tubuhnya sendiri, sehingga anak memiliki pemahaman yang utuh untuk mampu menjaga diri serta terhindar dari pelaku kekerasan dan pelecehan seksual. Prinsip AJEL yang diterapkan menunjukkan hasil yang signifikan dan terbukti efektif melalui pengukuran Pre test dan Post test untuk mengecek pemahaman anak terhadap materi yang diberikan. Hasil Post test menunjukkan, anak memahami materi yang diberikan dan ada penambahan wawasan mengenai tubuhnya, cara merawat dan menjaga tubuhnya, dan memahami sentuhan aman dan tidak aman. Anak juga mulai bisa mengidentifikasi perilaku orang lain yang berpotensi tidak aman untuk dirinya melalui prinsip AJEL. Program ini diharapkan kedepannya bisa diterapkan lebih luas ke berbagai sekolah dasar yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga akan lebih banyak masyarakat yang bisa menikmati manfaatnya.