Psychology For Better Community
  • TENTANG KAMI
    • Visi Misi
    • Pimpinan Fakultas
    • Sejarah
    • Sarana dan Prasarana
    • Struktur Organisasi
    • Dosen Psikologi
    • Staf Kependidikan
    • Akreditasi
    • Alumni
  • AKADEMIK
    • Sarjana Psikologi
    • Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Magister Psikologi Profesi
  • KERJASAMA
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
    • Mitra
  • LAYANAN ONLINE
    • Layanan Dosen
    • Layanan Mahasiswa dan Alumni
    • Dokumen Akademik
  • LAYANAN PSIKOLOGI
    • Laboratorium Psikodiagnostika
    • Center for Community Empowerment (CCE)
    • Laboratorium Psikologi Terapan (LPT)
  • Menu Menu

Pola Asuh Keluarga Muhammadiyah: Menyeimbangkan Disiplin Syariat dan Kelekatan Emosional

February 11, 2025/in Berita/by Wildan

Keluarga Muhammadiyah dituntut untuk menjadi unit terkecil yang mampu mencetak kader tangguh dan berakhlak mulia dalam dinamika yang terus berubah. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menanamkan kedisiplinan syariat yang kokoh tanpa kehilangan kehangatan hubungan antara orang tua dan anak. Pola asuh ini dikenal sebagai upaya menyeimbangkan antara Ketegasan (Disiplin) dan Kelekatan (Koneksi Emosional).

1. Disiplin Syariat: Fondasi Karakter Berkemajuan

Dalam tradisi Muhammadiyah, syariat bukan sekadar aturan hukum, melainkan jalan hidup (way of life). Sejak usia dini, anak-anak dalam keluarga Muhammadiyah dikenalkan pada tertib ibadah, kejujuran, dan kemandirian.

 Secara psikologis, disiplin yang konsisten memberikan rasa aman pada anak karena mereka memahami batasan yang jelas. Dalam Islam, ini selaras dengan perintah untuk mengajak anak shalat pada usia tujuh tahun—sebuah bentuk latihan kedisiplinan yang berulang dan terukur. Namun, disiplin dalam keluarga Muhammadiyah bukanlah disiplin buta, melainkan Disiplin yang Mencerahkan, di mana anak diajak memahami mengapa suatu aturan agama harus dijalankan.

2. Kelekatan Emosional: Jembatan Kasih Sayang (Secure Attachment)

 Psikologi perkembangan menekankan pentingnya secure attachment (kelekatan aman) agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki regulasi emosi yang baik. Tanpa kelekatan, disiplin syariat akan terasa seperti beban atau paksaan.

Keluarga Muhammadiyah mengadopsi nilai-nilai luhur dari Nabi Muhammad SAW dalam memperlakukan anak: penuh kasih sayang, lemah lembut, dan komunikatif. Kelekatan emosional dibangun melalui:

  • Dialog Dialogis: Mendengarkan pendapat anak dengan empati, sebagaimana metode KH Ahmad Dahlan yang sering mengajak murid-muridnya berdiskusi secara terbuka.
  • Validasi Perasaan: Mengakui emosi anak sehingga mereka merasa dihargai secara personal.
  • Waktu Berkualitas: Hadir secara utuh dalam momen-momen penting anak untuk membangun kepercayaan (trust).

3. Sinergi: Menghindari Pola Asuh Otoriter maupun Permisif

Keseimbangan adalah kunci. Jika hanya disiplin syariat yang ditekankan tanpa emosi, pola asuh cenderung menjadi Otoriter, yang berisiko membuat anak memberontak atau rendah diri. Sebaliknya, jika hanya kelekatan yang diutamakan tanpa syariat, pola asuh menjadi Permisif, yang menghasilkan pribadi tanpa prinsip.

Keluarga Muhammadiyah idealnya menerapkan pola asuh Otoritatif (Demokratis-Islami):

  • High Demand: Menetapkan standar moral dan ibadah yang tinggi sesuai syariat.
  • High Responsiveness: Memberikan dukungan emosional dan penjelasan rasional di balik setiap standar tersebut.

4. Etos Al-Ma’un dalam Pengasuhan

Satu hal unik dalam keluarga Muhammadiyah adalah pengenalan empati sosial sebagai bagian dari karakter. Anak tidak hanya diajarkan shalat (aspek vertikal), tetapi juga diajak peduli pada sesama (aspek horizontal). Ketika orang tua mengajak anak terlibat dalam kegiatan sosial Muhammadiyah, terjadi proses belajar psikologis di mana anak mengembangkan kecerdasan sosial dan rasa syukur.

Kesimpulan

Pola asuh keluarga Muhammadiyah adalah harmoni antara keteguhan prinsip dan kelembutan hati. Dengan menyeimbangkan disiplin syariat dan kelekatan emosional, keluarga Muhammadiyah tidak hanya mencetak individu yang taat secara ritual, tetapi juga sehat secara mental, mandiri secara berpikir, dan hangat secara sosial. Inilah esensi dari mencetak generasi “Pelopor, Pelangsung, dan Penyempurna Amanah” yang berkemajuan.

 

 

-Farah Fabiola-

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png 0 0 Wildan https://fpsikologi.uad.ac.id/wp-content/uploads/2024/08/logo-psikologi-uad.png Wildan2025-02-11 12:16:572026-03-09 12:21:13Pola Asuh Keluarga Muhammadiyah: Menyeimbangkan Disiplin Syariat dan Kelekatan Emosional

Post Terbaru

  • GRAND FINAL DUTA PSIKOLOGI UAD 2025: AJANG APRESIASI INTELEKTUALITAS dan KARAKTER MAHASISWA PSIKOLOGIJanuary 5, 2026 - 2:58 pm
  • Media Sosial dan Psikologi Kita: Antara Perbandingan Sosial dan Nilai-Nilai IslamDecember 20, 2025 - 2:31 pm
  • MAHASISWA PSIKOLOGI UAD RAIH EMAS di NATIONAL WRITING COMPETITION 2025December 4, 2025 - 10:29 am

Instagram

Ikuti Kami!

Kampus 1

Universitas Ahmad Dahlan
Jl.Kapas 9, Semaki, Umbulharjo, Yogyakarta 55166
Telepon : (0274) 563515, 511830, 379418, 371120 Ext. –
Layanan Akademik : WA (0882-3346-3544)
Faximille : 0274-564604
Email : info[at]psy.uad.ac.id

Informasi Tentang

Universitas Ahmad dahlan

Portal Akademik

Calon Mahasiswa

Jadwal Kuliah

Kuliah Online

Journal @UAD

Digital Library

Repository

Conference @UAD

Daftar di UAD dan kembangkan potensimu dengan banyak program yang bisa dipilih untuk calon mahasiswa

Informasi PMB
Universitas Ahmad Dahlan

Telp. (0274) 563515
Hotline PMB
S1 – 0853-8500-1960
S2 – 0878-3827-1960

INFO UJIAN ULANG GANJIL 2024/2025[PRESS RELEASE] Pengabdian Masyarakat Fakultas Psikologi UAD dan FKIP UAD: Pendidik...
Scroll to top