Relawan Psikososial Ahmad Dahlan : Doggala, Sulawesi Tengah

Saya merasa Ilmu Psikologi adalah ilmu yang benar-benar bermanfaat yang dapat diaplikasikan untuk masyarakat. CakupanIilmu Psikologi juga luas, baik di Klinis, Perkembangan, Sosial, Industri, dan lain sebagainya. Saya berharap semua manusia dapat mempelajari Ilmu Psikologi supaya berguna untuk kehidupan sehari-hari, serta  kita dapat mencapai kesehatan mental yang baik dengan mempelajarinya”. Faqih Abdussalam koordinator tim Rewalawan Psikososial Posyan Wani Dua, Donggala.

Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan turut mengirim tenaga bantuan ke Palu dan Donggala setelah bencana Tsunami dan Gempa bumi yang melanda kota tersebut. Fakultas Psikologi mengirim Lima relawan yang merupakan anggota dari KORPS-AD dibawah naungan BEM F Psikologi UAD. Mereka diterjunkan di posyan Wani dua, Donggala, Sulawesi Tengah. Lima orang tersebut adalah    Faqih Abdussalam, Satrio Dwi Braja, Endischa Ficha Antarie, Iva Nining Riyanty, Mukhlisa Aulia Azizah. Mereka ditugaskan selama kurang lebih 3 bulan terhitung mulai tanggal 2 November sampai dengan 28 Desember 2018.

Relawan psikososial Ahmad Dahlan memfokuskan pemulihan pada akibat-akibat yang diderita korban pasca bencana. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh relawan psikososial seperti: Konseling, Art Therapy, Relaksasi  dan Psylogical First Aid (PFA).  Relawan sendiri memberikan materi tentang PFA kepada anak-anak SD sampai dengan SMA / SMK dengan sasaran murid maupun guru. Relawan juga menyasarkan target PFA  kepada masyarakat dengan cara mengumpulkanya dibalai desa setermpat dengan bekerjasama dengan Sekertaris Desa Wani Dua. PFA sendiri diberikan dengan tujuan meningkatkan keterampilan dalam mengurangi dampak negatif dan mencegah timbulnya gangguan mental menjadi lebih buruk yang disebabkan oleh situasi sulit seperti bencana alam.

Selain itu, Para Relawan Wani Dua juga memberikan Art Therapy  yang difokuskan kepada anak-anak. Hal ini dikarenakan anak-anak dianggap susah untuk menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya. Kertas dan alat tulis menjadi media pada Art Therapy ini. Diharapkan dengan menggambar dan melukis yang dilakukan oleh anak-anak mampu mewakili perasaan yang sedang dialaminya, serta mengurangi dampak traumatic akibat bencana yang terjadi.

Untuk pelayanan konseling sendiri kurang maksimal diterapkan di Wani Dua. Karena para korban merasa terganggu dengan tindakan-tindakan saat konseling. Sedangkan konseling di sekolah masih tidak diindahkan oleh para siswa sebab mereka menganggap konseling hanya diberikan pada siswa siswi dengan label “Nakal”. Rasa takut dan cemas masih melingkupi perasaan mereka ditambah lagi dengan tidak beraninya warga tidur didalam rumahnya sendiri karena takut akan ada tsunami lagi. Namun dengan kerja keras dan kekompakan tim , Para Relawan mampu memotivasi serta memberikan arahan kepada warga yang terdampak bencana tersebut. Sehingga bisa bangkit dari masalah-masalah yang dideritanya dan mau untuk kembali tidur didalam rumah mereka meskipun membutuhkan waktu yang tidak singkat.