UAD bersama MPKS PDM dan MKS PDA wujudkan Lansia Tangguh dan Sejahtera
Upaya mewujudkan kelompok lanjut usia (lansia) yang sehat, aktif, dan sejahtera terus diperkuat melalui langkah nyata di masyarakat. Guna mencapai tujuan tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa Workshop Manajemen Kesejahteraan Lansia di Aula Pimpinan Daerah `Aisyiyah Sleman, Sabtu (9/5/2026). Tim pelaksana kegiatan PkM terdiri dari Prof. Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si., Dr. Tri Wahyuni Sukesi, S.Si., M.P.H., dan Prof. Dr. Surahma Asti Mulasari, S.Si., M.Kes.
Workshop ini menghadirkan narasumber dari keilmuan psikologi dan kesehatan masyarakat. Dr. Tri Wahyuni Sukesi, S.Si., M.P.H., memaparkan materi mengenai “Kesehatan Fisik, Gizi dan Lingkungan Lansia”. Sementara itu, materi dari sisi aspek psikologis disampaikan oleh Prof. Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si., dengan topik “Kesehatan Mental untuk Menjadi Senior Tangguh”. Kedua materi ini sengaja dipadukan untuk memberikan bekal yang seimbang antara kesehatan jiwa dan raga bagi para lansia.
Kegiatan yang mengusung tema “Mewujudkan Lansia Tangguh dan Sejahtera” ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dan Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman. Workshop ini dilaksanakan sebagai ruang strategis untuk meningkatkan pemahaman, ketrampilan dan kapasitas pendamping (kader kesehatan), pra lansia dan lansia di wilayah kabupatan Sleman dalam mendukung kesejahteraan lansia secara holistik.
Acara yang berlangsung dinamis dan penuh antusias ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari kalangan pra lansia, lansia, kader kesehatan serta pengurus griya lansia di wilayah Sleman di bawah binaan MPKS PDM dan MKS PDA. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan berbagai materi terkait pengelolaan kesehatan mental lansia, kesehatan fisik lansia, kesehatan lingkungan lansia, pentingnya dukungan psikososial, pemberdayaan keluarga, hingga strategi mewujudkan lansia yang tangguh.
Dalam pemaparannya, Dr. Tri Wahyuni Sukesi, S.Si., M.P.H., menegaskan bahwa menjaga kesehatan fisik dan status gizi merupakan fondasi utama bagi kelompok lansia. Ia menjelaskan bahwa setelah memasuki usia 40 tahun (pra lansia), harus sudah berupaya menyesuaikan kebutuhan fisik dan gizi tubuh, menjaga kesehatan fisik dan status gizi lansia dimulai dari pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik teratur, pemeriksaan kesehatan rutin, istirahat cukup, serta menjaga kesehatan lingkungan.
Senada dengan hal tersebut, Prof. Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si., mengungkapkan data saat ini menunjukkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu provinsi dengan persentase lansia tertinggi di Indonesia. Kondisi ini menandakan DIY telah berada di fase aging population, dengan Kabupaten Sleman sebagai wilayah yang memiliki jumlah lansia terbanyak. “Tingginya jumlah lansia di wilayah Sleman ini membawa konsekuensi besar di berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perlindungan sosial, dukungan ekonomi dan pendampingan berkelanjutan. Oleh karena itu, kita perlu mencetak lansia tangguh yang sehat secara fisik, sosial, dan mental,” ujar Prof. Fatwa.
Ia juga menambahkan bahwa salah satu tantangan berat masa lansia adalah risiko isolasi sosial. Kondisi kesepian kronis tersebut tidak boleh disepelekan karena memicu depresi, kecemasan, hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit. “Untuk mencapai successful aging, lansia harus didorong untuk tetap aktif bergerak secara fisik dan sosial melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dan nyaman, menjaga komunikasi dengan anggota keluarga dan teman sebaya, serta memperkuat spiritualitas agar hidupnya tetap terasa bermakna,” pungkasnya. Successful aging dicapai melalui kesehatan fisik yang baik, fungsi kognitif yang terjaga, keterlibatan sosial aktif, dukungan keluarga, serta kemampuan beradaptasi secara positif terhadap proses penuaan.
Setelah itu, penjelasan yang interaktif dan praktis dari kedua narasumber memicu diskusi hangat pada sesi tanya jawab. Para pengurus griya lansia serta para lansia yang hadir sangat antusias memanfaatkan momen ini untuk berkonsultasi langsung mengenai tantangan nyata yang dihadapi lansia sehari-hari. Melalui sinergi antara akademisi UAD, MPKS PDM, dan MKS PDA Kabupaten Sleman ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang yang nyata. Dengan bekal keilmuan yang holistik, para pendamping dan lansia kini memiliki kesiapan yang lebih baik untuk mendampingi generasi lansia di Sleman menuju masa tua yang bahagia, mandiri, dan bermakna.





