Pos

Rumah Diskusi: Inner Child (Penerimaan Diri)

Rumah Diskusi merupakan nama lain dari kegiatan Kedai Kopi jelas Kinay selaku koordinator acara.  Kegiatan ini dilaksanakan pada minggu 04/06/21 menggunakan media Zoom. tidak dipungut biaya. Dihadiri kurang lebih 140 peserta dari berbagai usia dan profesi. Narasumber dalam Rumah Diskusi kali ini adalah Ellyana Dwi Farisandy S.PSI., Mpsi.,Psikolog. Adapun benefit yang didapatkan peserta adalah E-sertifikat, ilmu yang bermanfaat serta relasi.

Inner Child: Penerimaan diri merupakan tema yang di angkat dalam Rumah diskusi. dibuka oleh Dian kinayung, S.Psi., M. Psi., Psikolog “ tema yang diangkat kali ini sangat menarik dan berguna bagi kita. Jika kita sudah bisa menerima masalah, kita tentu akan lebih mudah untuk berfikir positif”. Dian juga menambahkan bahwa belajar tidak hanya dilakukan dengan membaca dan mendengar. Menceritakan kembali juga termasuk dari proses belajar.

Rumah diskusi berlangsung interaktif. Peserta dengan ramai menanggapi pertanyaan dan tanggapan lewat kolom cht Zoom. Webinar ini juga dilengkapai dengan gems untuk mengetes apakah peserta sudah memahami inner child. Untuk peserta yang suksess mejawab cepat dan benar akan mendapatkan doorprize dari panitia jelas Annis Lutfiya sebagai moderator acara.

“Proses pemulihan dari pengalaman yang tidak enak itu butuh waktu. Aku berharap teman-teman tidak menyerah karena semua bisa diupayakan” tutur Elly. Rumah Diskusi kali ini juga dilengkapai dengan pelatihan releksasi. Elly menjelaskan dua teknik terapi yaitu. Terapi menggunakan indra dan terapi pernafasan yang bisa dilakukan secara mandiri pada diri masing-masing peserta.

Rumah Diskusi siang  ini berlangsung dengan lancar. Annis menjelaskan intisari dari kegiatan yang berlangsung kurang lebih tiga jam ini. “ inner chaild bisa menjadi sumber masalah bagi orang dewasa. Inner chaid ada yang positif dan juga negatif. Luka batin juga bisa diberikan oleh proses pengasuhan orang tua”.

 

 

How To Let Go? Belajar Menangani Kerugian

Kedai kopi tiga 28/11/19. Bertempat di auditorium kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Acara yang dimoderatri oleh Shefti Rahma Wati mahasiswa semester 5 fakultas psikologi. Dan pemateri Ibu Nurfitria Swastiningsih, S.Psi.,M.Psi. yang juga sebagai dosen Fakultas psikologi UAD.  Membahas seputar Toxic Relationship. How to let go? Belajar menangani kerugian. Bagaimana seseorang sedang terjebak pada toxic relationship. Menyadari masih ada racun yang menepel meskipun orang yang toxic sudah hilang.

kedaikopi2

kedaikopi

Butuh seseorang yang kuat untuk meminta maaf, namun butuh seseorang yang lebih kuat untuk memaafkan.”Ibu Nurfitria. Dengan memaafkan dan menerima seseorang dapat merasakan kedamaian dalam hidupnya. Siapapun berhak keluar dalam lingkungan toxic. Dengan mengerti apa yang bisa dikendalikan dan yang tidak bisa dikendalika. Sudut pandang berperan besar dalam penilaian toxic people.

 Toxic people lebih memilih untuk mengubah bukan menerima. Toxic atau tidaknya seseorang tergantung dari sudut pandang yang diberikan. Manusia memiliki stimulus sebelum terjadinya respon. Diantara keduanya  ada kesempatan berfikir. Dengan mengevaluasi apa yang sebenarnya terjadi. Positif dalam berfikir. Memahami kesalahan orang lain. Mengingatkan tanpa menyalahkan. Pengalaman yang dibawa oleh setiap manusia berbeda. Oleh sebab itu manusia memiliki cara masing-masing dalam bertindak.

Suatu kerugian besar dalam hidup. Seseorang  berhak membwa dirinya keluar dari lingkungan toxic. Dengan membawa sudut pandang yang lebih luas dan positif membawa diri berdamai dan mampu menerima apa yang ada disekitar. Tanpa menuntut dengan cara sadar dengan apa yang dapat dikendalikan dan mana yang tidak dapat kendalikan. Agar tidak larut dalam pemikiran negatif. Selamat menjadi individu yang positif yang dapat menerima lingkungannya dengan baik.

Kedai kopi 2 ( Kegiatan Dialog Interaktif Komunitas Psikologi ) : TOXIC RELATIONSHIP (Ketika sebuah hubungan tak lagi menghubungkan)

kedaikopi2

kedaikopi2

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), mengadakan Kegiatan Dialog Interaktif  Komunitas  Psikologi (Kedai Kopi) acara yang dilaksanakan setiap satu tahun dua kali ini diadakan pada (24/10/19) di auditorium kampus 1 UAD, Kedai Kopi 2 kali ini membahas seputar  sebuah hubungan yang justru menciptakan dampak negatif  bagi kehidupan, pembicara dalam acara ini adalah Ibu Dian Fitriwati Darusmin, S. Psi, M. A, Psikolog yang juga sebagai dosen di UAD, dan di moderatori oleh Maisi Yantina Mahasiswi Psikologi UAD.

Kedai kopi memberi ruang untuk mengutarakan pendapat seputar isu-isu dan permasalahan yang sedang dihadapi saat ini,  di diskusikan secara santai namun berisi, sehingga dapat memberi solusi dalam diskusi dari masalah yang terjadi di lingkungan sekitar. Acara yang dihadiri kurang lebih 100 peserta baik dari mahasiswa  (UAD), maupun dari mahasiwa luar yang juga berantusias mengikuti acara Kedai Kopi 2, terlebih acara ini free HTM dan cukup dengan menyetorkan identitas diri, fasilitas yang didapat juga sangat menyegarkan selain mendapat pengalaman, sertifikat  dan teman baru, selama acara peserta juga di berikan konsumsi berupa makanan ringan dan kopi sebagai teman diskusi.

Ketika sebuah hubungan tak lagi menghubungkan, sebuah tema yang menarik untuk di diskusikan, Ibu Dian selaku pembicara memaparkan bagaimana cara individu mengenali Ebeuse (penyalahgunaan) dalam sebuah hubungan diantanranya: emotional ebeuse, sosial ebeuse, sexual ebeuse, econimi ebeuse, physical ebeuse. dan mengenali ciri-ciri individu yang sedang terperangkap dalam sebuah hubungan toxic relationship, serta dampak-dampak yang akan terjadi pada diri individu ketika berada pada lingkungan tersebut seperti: kehilangan rasa percaya diri, harga diri, tidak bahagia, timbul rasa bersalah, kecemasan dan gangguan fisik serta gangguan psikologis lanjut.

Maisi selaku moderator menyimpulkan “bahwasaanya hubungan tidak toxic jika yang menjalin hubungan itu sama-sama bahagia, namun sebuah hubungan akan menjadi toxic apabila salahsatu merasa tertindas atau tidak bahagia dalam menjalani hubungan tersebut, tidak hanya hubungan sepasang kekasih namun dapat di artikan hubungan secara luas baik dengan keluarga, pertemanan maupun lingkungan sosial. Sebagai individu yang bijaksana harus bisa mengevaluasi diri sendiri dari emosi positif dan emosi negatife, mengetahui adakah pengendalian di salah satu pihak yang membuat tidak nyaman, mampu membuat batasan dalam sebuah hubungan karena individu berhak menentukan kebahagiaannya dan berani bicara apa yang sebenarnya dirasakan  tanpa menyinggung”.

(ay)

Kedai Kopi Part 2 : Menyikapi LGBT dalam Aktualisasi Diri

 

“Mahasiswa adalah agent of change, jangan hanya menutup diri sebatas untuk kuliah saja. Terus belajar dan mengupdate ilmu pengetahuan.  Janganlah buta dengan isu-isu yang sekarang berkembang di masyarakat, terutama tentang LGBT”. Muhammad Andrianto Ketua Bidang  Keilmuan BEM F Psikologi.

Bidang Keilmuan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Psikologi menyelenggarakan Kegiatan Diskusi Interaktif Komunitas Psikologi (KEDAI KOPI )part 2 (21/9/2018). Bertempat di Auditorium Kampus 1 UAD,  Kedai Kopi part 2 membahas tentang LGBT. Tema yang diambil untuk kedai Kopi part 2  merupakan kelanjutan dari tema Kedai Kopi part 1. Kedai kopi part 2 mengahadirkan pembicara diantaranya  Dra Elli Nur Hayati, MPH, P.hD  (Dekan Fakultas Psikologi UAD dan Peneliti Maskulinitas), Sarah Montavani, SH, M.PI (Aktivis Yayasan Peduli Sahabat).

Mengangkat tema  Menyikapi LGBT dalam Aktualisasi Diri, kedai kopi part 2 dihadiri oleh lebih dari 100 peserta dari berbagai perguruan tinggi di DI Yogyakarta. Peserta yang mengikuti acara ini mendapat berbagai keuntungan , diantaranya free HTM, ilmu yang bermanfaat,  sertifikat dan free snak bagi setiap peserta. Acara ini merupakan rangkaian acara yang ke 2 selama satu periode kepengurusan, acara ini dimeriahkan juga dengan hiburan dari psicovocal band.

LGBT atau lebih dikenal  dengan  Lesbian Gay Biseksual dan Transgender masih menjadi problematika yang perlu dikaji secara terus menerus terkusus di Indonesia. Masih banyaknya pro kontra diantara masyarakat, yang menjadikan masalah LGBT ini permasalahan yang cukup  serius.

“Ketika sebagai mahasiswa psikologi, harus bisa mengubah dan mengajak  masyarakat terkhusus  dimana tempat kita tinggal. Sehingga masyarakat tau arti pentingnya kesehatan mental bagi kita semua”. Ungkap Andrianto